Wacana Humor Cerita Wayang JAWA POS Dalam Perspektif Bisosiasi

Wacana Humor Cerita Wayang JAWA POS Dalam Perspektif Bisosiasi; oleh D. Jupriono (dosen Fakultas Sastra Untag Surabaya)

Humor bukan lahan asing dalam dunia riset. Humor pelawak Indonesia secara sekilas pernah dibicarakan oleh I D.P. Wijana (1985). Pengenalan sangat sederhana mengenai ragam bahasa lawak Jawa pernah dideskripsikan Jupriono (1987). Humor dalam hubungannya dengan pemilihan bahan pengajaran didisertasikan oleh Soedjatmiko (1988). Humor ludruk pernah ditelaah Suprianto (1992). Humor Srimulat pernah dikupas Riyanto (1993). Humor kartun pernah diteliti Wijana (1996). Humor plesetan Jawa pernah ditulis oleh Rahardjo (1996). Humor di kalangan mahasiswa sudah didokumentasikan oleh J. Dananjaya (1997).

Humor apa yang belum dibahas orang? Salah satu jenis humor yang jarang diteliti adalah cerita wayang “Opo Maneh” di Jawa Pos (CWJP) yang muncul rutin setiap Minggu sejak 1984.

Pendahuluan

Sebagian besar masyarakat Indonesia menyukai humor. Tidak sulit membuktikan hal ini. Tayangan komedi “Srimulat” Indosiar, “Ketoprak Humor” RCTI, “Ludruk Glamor” SCTV, dan “Ngelaba” TPI, misalnya, selalu ditunggu dan diburu pemirsa. Film-film komedi Dono-Kasino-Indro, Kadir-Doyok, yang biarpun berulang-ulang ditayangkan di televisi, pemirsa tidak pernah bosan menikmatinya. Kisah-kisah lucu, anekdot, kartun, karikatur adalah rubrik yang tidak dilewatkan pembaca. Malahan–alhamdulillah–Presiden Gus Dur pun gudangnya lelucon!

Hal ini membuktikan bahwa humor penting bagi kehidupan manusia Indonesia (Setiawan, 1990). Setidaknya menurut humorolog Jaya Suprana (1996: 99), humor senantiasa siap optimal didayagunakan sebagai sarana: mawas diri, menjaga kestabilan jiwa, mekanisme kontrol sosial, falsafah hidup demi mampu luwes menghadapi problem, elemen penggairah kreativitas dan peningkatan produktivitas, pelumas komu-nikasi sosial, pemertajam daya kritis dan intuisi, pemerluas wawasan, pembasmi kebencian, mekanisme penawar dan pelepas desakan naluri agresivitas dan destruktivitas, dan bahkan sarana keimanan karena menyadarkan ketidaksempurnaan manusia di hadapan kesempurnaan Tuhan. Menurut budayawan Mohamad Sobary (2000), humor sering “membawa pesona yang mewajibkan kita merenung”.

Humor bukan lahan asing dalam dunia riset. Humor pelawak Indonesia secara sekilas pernah dibicarakan oleh I D.P. Wijana (1985). Pengenalan sangat sederhana mengenai ragam bahasa lawak Jawa pernah dideskripsikan D. Jupriono (1987). Humor dalam hubungannya dengan pemilihan bahan pengajaran didisertasikan oleh W. Soedjatmiko (1988). Humor ludruk pernah ditelaah H. Suprianto (1992). Humor Srimulat pernah dikupas G. Riyanto (1993). Humor kartun pernah diteliti I D.P. Wijana (1996). Humor plesetan Jawa pernah ditulis oleh C.P. Rahardjo (1996). Humor di kalangan mahasiswa sudah didokumentasikan oleh J. Dananjaya (1997).

Humor apa yang belum dibahas orang? Salah satu jenis humor yang jarang diteliti adalah cerita wayang “Opo Maneh” di Jawa Pos (CWJP) yang muncul rutin setiap Minggu sejak 1984. Padahal, bertahan lamanya rubrik ini (1984–2000) membuktikan bahwa CWJP digemari pembaca. Karena itulah, CWJP sengaja dipilih sebagai objek penelitian.

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan umum ingin mengetahui struktur wacana humor verbal CWJP. Secara khusus, riset ini bertujuan (1) mendeskripsikan penggunaan aneka ragam nomina dalam wacana humor CWJP dan (2) mendapatkan gambaran struktur wacana humor CWJP dalam perspektif bisosiasi.

Riset ini membahas masalah pokok tentang unsur dan struktur wacana humor verbal CWJP ditinjau dari teori bisosiasi. Humor verbal mencakup seluruh humor yang bermedia bahasa. Setiap bahasa terbangun dari kosakata dan tata bahasa. Dari kosakatanya, bahasa dapat diunitkan ke dalam nomina, verba, ajektiva, preposisi, konjungtor, numeralia, adverbia, interjeksi, artikel, dan partikel (Alwi dkk., 1993). Dari sekian unit, hanya unit nomina yang dikaji dalam penelitian ini. Dengan batasan ini, masalah pokok dijabarkan ke dalam rumusan berikut. (1) Bagaimanakah penggunaan nomina dalam CWJP dalam perspektif bisosiasi? (2) Bagaimana struktur wacana humor CWJP?

Dalam tataran teoretis, temuan penelitian ini diharapkan berguna untuk memperkaya khasanah analisis wacana (discourse analysis), khususnya telaah struktur wacana dan koherensi wacana. Penelitian ini juga memperkaya khasanah interdisipliner sosiolinguistik karena telaah ini juga mendeskripsikan kharakteristik variasi bahasa, yaitu ragam bahasa sastra atau ragam bahasa humor. Kajian interdisipliner bahasa dan psikologi pun dapat memanfaatkan temuan ini sebab teori yang dipakai dalam penelitian ini adalah teori bisosiasi. Akhirnya, sekalipun tidak banyak, penelitian ini juga berguna bagi kajian kosakata karena unit analisisnya adalah aneka ragam nomina.

Pada level praktis, penulis CWJP, dalang Ki Sunu, dapat memanfaatkan penelitian ini untuk memperkaya kreativitasnya. Setidaknya, setelah membaca laporan penelitian ini Ki Sunu mungkin dapat membaca kembali tapak tilas yang telah ditorehkan selama ia “merajai” rubrik CWJP selama hampir dua puluh tahun (1984–2000): apa yang telah ditulisnya, bagian mana yang belum diceritakan, mungkin juga strategi humor apalagi yang dapat dihadirkan untuk masa-masa mendatang mengingat rubrik ini banyak diminati pembaca. Bukan hanya Ki Sunu, pembaca pun dapat memanfaatkan penelitian ini sebagai sarana awal mengenal telaah humor dan membandingkan bentuk-bentuk humor.

Telaah Pustaka

Secara awam, humor akan dipahami sebagai segala sesuatu yang lucu; indikator lucu adalah terlihat dalam senyum dan tawa (Suprana, 1996; Apte, 1985: 14). Dengan demikian, humor dilihat dari subjeknya, dan bukan humor itu sendiri sebagai objek. Masalahnya, bagaimanakah seanda-inya ada wacana humor, tetapi subjek tidak senyum, tertawa, malahan cemberut? Apakah wacana itu tidak layak disebut humor? Inilah kelemahan pemahaman humor dari sudut subjek. (Setiawan, 1990: 45) Membatasi pengertian humor dari sisi subjek penikmat mustahil sebab rangsangan penyentil kelucuan itu berbeda-beda antarbangsa, antarkelompok, bahkan antarindividu, juga antar situasi (Chiaro, 1992). Maka dari itu, selayaknya humor lebih dilihat dari objeknya (teks humor itu sendiri). Dari sini dapat dipastikan apakah suatu paparan layak disebut humor atau tidak layak, cukup dengan mengukur apakah dalam teks tersebut terdapat kandungan komponen humor atau tidak, dan bukan dengan melihat apakah subjek penikmat tertawa ataukah diam.

Pandangan yang cocok dengan objektivitas humor adalah teori bisosiasi. Menurut teori bisosiasi, yang mendasari semua humor adalah kondisi bisosiatif, yakni menjadi satunya dua ide, dua hal, dua dunia, atau dua situasi yang berlainan, dan akhirnya terasa ganjil, bertentangan, tidak pantas, dan tidak logis (Sisk dan Sounders, 1972; Levine, 1972; Blistein, 1977).

Memang, konsep humor yang dikenal masyarakat akademik bermuara dari tiga teori utama, yaitu (1) teori ketidaksejajaran (incongruity theory), (2) teori konflik (conflict theory), dan teori pembebasan (relief theory) (Wilson, 1979). Dari ketiganya, dua teori pertama sangat relevan dikaitkan dengan teori bisosiasi.

Teori ketidaksejajaran memandang humor sebagai penggabungan dua makna atau penafsiran yang berbeda ke dalam satu objek yang kompleks, sedang teori konflik menerima humor sebagai penjajaran dua atau lebih situasi yang bertentangan ke dalam satu konteks (Wilson, 1979: 11). Sementara, teori pembebasan merupakan penjelasan dari sisi emosional, yakni bahwa humor akan membebaskan seseorang dari perasaan tertekan secara psikologis dan termarginalisasikan secara sosial (cf. Sobary, 2000). Karena itu, jika teori bisosiasi dipilih, dengan sendirinya teori ketaksejajaran dan teori konflik terikutkan. Perhatikan contoh (1) berikut!

Contoh (1)
Suami : Tiap hari ada saja berita miringm mengenai Departemen Tenaga Kerja.
Bu, … apa sih sebenarnya fungsi Departemen Tenaga Kerja itu …?

Istri : Itu lho, Pak, … tukang ngerjain orang!
(Wijana, 1996)

Dalam perspektif ketidaksejajaran, wacana humor verbal (1) terbangun karena ada ketidaksejajaran antara Departemen Tenaga Kerja yang misinya memang membantu masyarakat mencari kerja dan tukang ngerjain orang sesuatu yang kontradiktif dengan misi Depnaker. Dua hal ini dianggap sebagai dua hal yang bertentangan oleh teori konflik. Sementara itu, orang yang mendengarkan satir ini akan merasakan humor ini sebagai katarsis pembebasan dari rasa kesal dan minor terhadap kinerja Depnaker. Dengan demikian, humor ini berfungsi sebagai kritik, kontrol, dan protes sosial (Ancok, 1996).

Ditinjau dari struktur wacana, humor verbal di muka terbangun dari tiga bagian secara teratur berurutan. Bagian tiap hari ada berita miring mengenai Departemen Tenaga Kerja merupakan pengantar. Kalimat apa sih sebenarnya fungsi Departemen Tenag Kerja itu menduduki bagian pemancing. Kemudian, tukang ngerjain orang merupakan bagian penyentilnya (cf. Soedjatmiko, 1988; Jupriono, 1993).

Dalam humor verbal bahasa menjadi media pokok. Kata-kata suatu bahasa memang lentur sehingga dapat dimanfaatkan untuk tujuan (dan membungkus) marah, manipulasi, dan humor (Sherzer, 1985; Conklin, 1964; Pike, 1967). Berdasarkan bentuk teksnya, humor verbal dapat dibedakan ke dalam: humor satu baris (one-line jokes), humor dua baris (two-line jokes), humor teks pendek (short text jokes), humor kolom (column humor), dan humor sastra (literary humor) (Soedjatmiko, 1988). Dalam hal ini, CWJP tergolong humor sastra.

Untuk memahami wacana humor, diperlukan kemampuan memahami konteks intralingual (cotext) dan konteks ekstralingual (context) (Malinowski, 1964; Hayakawa, 1972) dari wacana tersebut. Pemahaman wacana hanya mungkin tepat jika orang mempertimbangkan kedua konteks itu. Konteks pertama biasanya tidak banyak menimbulkan masalah, tetapi konteks kedua menuntut orang untuk banyak belajar dan mendengar dalam komunikasi sosial.

Maka, dalam memahami cerita wayang, pembaca harus memahami berbagai konteks yang berkaitan dengan beberapa konvensi yang inheren dalam wayang, yakni konvensi sastra, konvensi budaya, dan konvensi bahasa (Anderson, 1990; Amir, 1994). Konvensi sastra harus dipahami sebab cerita wayang memang masuk salah satu genre prosa; konvensi budaya harus dikenal sebab dalam cerita wayang kental sekali nilai budaya tertentu (khususnya Jawa) (Anderson, 1990; Sumantri dan Walujo, 1999); konvensi bahasa (Jawa, Melayu) juga harus dipahami sebab cerita wayang banyak ditulis dalam bahasa tertentu (Jawa, Melayu); karya sastra yang bernuansakan epos wiracarita Ramayana dan Mahabarata ini banyak tertulis dalam kedua bahasa tersebut sebelum diterjemahkan ke dalam bahasa asing (Inggris, Belanda, Jerman). Dengan konvensi ini, jelas sekali, karya sastra tidak 100% fiktif, melainkan menyimpan juga kandungan fakta kehidupan masyarakat penikmatnya (Kleden, 1998).

Humor dalam sastra terbangun tidak lewat konsistensi mengikuti standar cerita (pakem), tetapi justru lewat penyimpangan terhadap konvensi sastra, konvensi budaya, dan konvensi bahasa. Konvensi-konvensi ini sudah diyakini dan menjadi pengetahuan umum masyarakat penikmat humor tersebut. Dengan demikian, pada umumnya masyarakat akan cepat menangkap terjadinya perbedaan, penyimpangan, dan pertentangan antara apa yang dibaca dengan apa yang semestinya (cf. Sudarsono, 1996). Masyarakat menggemari wayang, sehingga cepat tanggap terhadap terjadinya modifikasi. Hal ini “dibaca” oleh kalangan birokrat. Maka, dengan kandungan nilai seni dan humornya, wayang pun didayagunakan pemerintah sebagai media komunikasi pembangunan (Guritno, 1995).

Metode Penelitian

Penelitian ini berparadigma pada pendekatan kualitatif. Datanya berbentuk bahasa (Kirk dan Miller, 1986), dalam hal ini teks CWJP. Instrumen yang dimanfaatkan adalah human instrument, yakni peneliti itu sendiri. Metode yang relevan dalam riset ini adalah metode identitas referensial (Sudaryanto, 1993) sebab dalam penelitian ini analisis data verbal (teks CWJP) mempertimbangkan padanannya dengan acuan-acuan di luar simbol bahasa dalam realitas empiris (realitas sosial budaya masyarakat Jawa).

Pengambilan fokus kajian dilakukan secara purposif dengan pertimbangan bahwa seluruh anggota populasi cerita wayang harus diseleksi dan dipertimbangan berdasarkan kandungan humor, konvensi budaya dan bahasa Jawa. Aplikasi temuan penelitian ini tentatif, hanya berlaku bagi fokus studi, akan tetapi dapat bernilai transferabilitas (Faisal, 1990) untuk digunakan sebagai alat analisis wacana humor yang lain.

Sumber data (sebagai “populasi”) tempat fokus penelitian ini adalah seluruh CWJP sejak “Surutnya Kewibawaan Sesepuh Kurawa” (Jawa Pos, 7 Januari 1984) sampai dengan “Gatutkaca Memburu Pergiwa” (Jawa Pos, 9 Juni 1991); jadi, populasinya terbentang selama tujuh tahun. Karena rubrik ini muncul setiap minggu, dapat dibayangkan betapa luasnya cakupan sumber datanya. Akan tetapi, dengan pertimbangan bahwa (1) cerita ini ditulis oleh satu orang “dalang” (Ki Sunu) dan (2) pengamatan sekilas membuktikan bahwa gaya dan strategi humor Ki Sunu tidak berubah, pemilihan sejumlah anggota sumber data, yang dipertimbangkan mampu mencakup seluruh kemungkinan karakteristik dan varian data secara maksimal, tetap dapat dipertanggungjawabkan secara metodologis. Dalam penentuan luas fokus telaah pada sumber data, prinsip kejenuhan informasi dijadikan pertimbangan satu-satunya (Muhadjir, 1992).

Data penelitian ini adalah klausa, kalimat, bagian paragraf, dan paragraf dalam CWJP. Sedangkan, objek penelitiannya adalah (1) nomina dengan segala sub-nominanya, yaitu persona, fauna, lokasi, barang, tempo, ide, abstraksi aktivitas, penyakit, dan onomatope, serta (2) struktur wacana humor dalam CWJP, baik bagian pengantar, pemancing, maupun penyentil. Di sini berlaku prinsip bahwa objek penelitian (Op) adalah bagian dari data penelitian (Dp). Sisanya adalah konteks (K). Dengan kata lain, berlaku rumus “Dp = Op + K” (Sudaryanto, 1993). Konteks dalam hal ini mencakup (1) konteks intralingual seperti yang terpapar eksplisit dalam teks CWJP dan (2) konteks ekstralingual seperti budaya dan masyarakat Jawa dan Indonesia.

Pengumpulan data penelitian ini menggunakan teknik analisis tekstual atau analisis dokumentasi (Silverman, 1993: 13, 61) karena koran Jawa Pos adalah salah satu contoh dokumen publik. Prosedur yang ditempuh untuk menjaring data adalah: (1) pengkodean sumber data (edisi tahun, bulan, tanggal, paragraf di JP), (2) penseleksian data (mengandung nomina dengan segala subnominanya, konteks intralingual data, serta struktur wacana), (3) pencatatan data ke dalam kartu data (mengandung kode paragraf, tanggal, bulan, dan tahun terbit), (4) pengumpulan dan pengurutan data, yang didasarkan pada kronologis waktu terbit dan sepuluh subnomina.

Analisis data dilakukan dengan teknik klasifikasi, teknik analisis domain (domain analysis), dan analisis taksonomis (taxonomic analysis) (Faisal, 1990; Silverman, 1993). Dasar klasifikasi ditentukan berdasarkan jenis-jenis subnomina, yaitu (a) persona, (b) fauna, (c) barang, (d) lokasi, (e) onomatope, (f) tempo, (g) media, (h) penyakit, (i) ide, dan (j) abstraksi aktivitas. Adapun langkah konkretnya, dalam rangka menolak ataukah menerima dua hipotesis, sebagai berikut.

Untuk menjawab rumusan masalah pertama, ditempuh langkah-langkah berikut. (1) Objek penelitian, yang terkandung dalam data teks cerita wayang JP, diklasifikasikan berdasarkan sepuluh subnomina. (2) Setiap subnomina sebagai objek penelitian ditelaah ke dalam dua bagian, yaitu (a) bagian yang sesuai dengan pakem (nomina konvensional) dan (b) bagian yang di luar pakem wayang (nomina inkonvensional). (3) Ketidaksejajaran atau pertentangan antarbagian dalam setiap data, sebagai wujud bisosiasi, ini diklasifikasikan lebih lanjut berdasarkan jenis-jenis subnomina.

Untuk menjawab rumusan masalah kedua, ditempuh langkah-langkah sebagai berikut. (1) Setiap penggalan satuan humor CWJP, sebagai data penelitian ini, dibatastegaskan ke dalam kalimat atau klausa. (2) Setiap kalimat atau klausa digolongkan ke dalam bagian pengantar, pemancing, ataukah penyentil. (3) Menentukan struktur wacana CWJP dengan menyusun pola urutan antarbagian. (4) Mengklasifikasikan struktur wacana berdasarkan (a) bagian-bagian struktur yang ada dan (b) pola urutan struktur wacana CWJP.

Hasil Dan Pembahasan

Hasil-hasil Penelitian

Ada dua hal pokok yang disajikan sebagai hasil penelitian. Pertama, kandungan aneka ragam nomina konvensional dan inkonvensional dalam CWJP. Kedua, pola-pola struktur wacana CWJP. Hasil pertama dan kedua, masing-masing, dapat menolak atau menerima hipotesis I dan II.

Nomina I, persona (tokoh), dalam CWJP tidak hanya mencakup nomina konvensional, tetapi juga nomina inkonvensional. Raden Bramakanda dan Dewi Bremanawati, misalnya, adalah persona konvensional yang memang ada dalam pakem wayang, tetapi “Sumini” dan “Ngateman” jelas bukan tokoh-tokoh wayang. Jika keduanya hadir serentak dalam teks, timbullah humor. Perhatikan contoh (2)!

Contoh (2)
Karena Dewasrani tetap bersikeras membawa Drestanala, Saraswati pun berteriak-teriak memanggil anak-anaknya antara lain Raden Bramakanda, Bremana, Bremani, Dewi Bremanawati, Sarimah, Sumini, Do’im, dan Ngateman (24.2).

Dalam hal persona kontemporer, selain nama persona domestik macam Sarimah, Sumini, Do’im, dan Ngateman, muncul juga persona asing (Pangeran Charles, Saddam Husein) dan gabungan nama domestik dan asing (Prabu Yitzhak Bomantaro), seperti contoh (3) berikut.

Contoh (3)
Udawa menelepon Pangeran Charles di London (2/6/91). … Pokoknya Dwarawati selain dianggap sebagai gudangnya penyimpanan senjata mutakhir, juga menyimpan ilmu kesaktian. Termasuk yang memberi perhatian besar dan selalu was-was terhadap Kresna adalah Prabu Yitzhak Bomantara, wayang keturunan Izrael dari negeri Sutrateleng … (3.3).

Di samping itu, masih ada nama “mustahil” persona kontemporer, yang tentu saja tak terbayangkan dalam konvensi budaya wayang. Misalnya “Wisnu itu pegawai PLN”, “Gorbachev”, “Primakov”, “partai politik”, “pengendara sepeda motor”.

Nomina II, fauna (satwa), dalam CWJP mencakup fauna konvensional sekaligus nomina inkonvensional. Akan tetapi, tidak seperti nomina persona, fauna inkonvensional dalam CWJP tidak banyak, seperti data (4) berikut!

Contoh (4)
Dalam pelarian Sembadra menangis terus. Tangisnya di tengah hutan Banjar Partuman terdengar Burisrawa, satria dari Mandaraka yang sedang berburu binatang buas seperti kadal, tikus, ayam, dan bekicot (9.12).

Dalam CWJP juga terdapat satwa konvensional yang memang ada dalam pakem. Misalnya “Garuda Wilmuna” piaraan Boma Narakasura, “Garuda Wilmuka” piaraan Gatutkaca, “Jatayu” penolong Shinta, dan “Mahisa Nandini” tunggangan Batara Guru. Tetapi, jelas, kadal dan bekicot bukan kosa cerita pakem wayang.

Fauna III, barang, dalam CWJP mencakup barang konvensional dan barang inkonvensional. Contoh barang konvensional adalah “sesaji ruwat sampar”, “kutang antakusuma” milik Gatutkaca, “senjata Cakrabaswara” milik Krisna, “aji-aji Brajamusti”, obat “kembang Wijayakusuma” milik Krisna, dan “gada Lukitasari” milik Setyaki. Barang-barang inkonvensional terkelompokkan ke dalam: (a) makanan-minuman tradisional, misalnya pangsit, jenang abang, martabak, jajan pasar, sego golong, nasi bebek, beras kencur; makanan elitis, misalnya dunkin donuts, ayam goreng Kentucky Fried Chiken, pizza, spaghetti; (b) peralatan, misalnya argometer, sepeda, televisi, peluit, credit card, akte kelahiran; (c) senjata, misalnya bom, pistol, pedang-pedangan plastik; (d) busana, misalnya BH Antakusuma, celana jeans, helm Basunanda; (e) obat-obatan, misalnya phthalyl-sulfathizole 500mg, kaolin 200mg, thamine hcl 1mg, riboflavin 0,5mg, pyridoxine hcl 0,5mg, niacinamide 5mg, ca partothenate 2mg, obat sakit perut. Perhatikan contoh wacana berikut (5)!

Contoh (5)
Krisna kemudian ingat pengalaman waktu muda dulu ketika menjadi wasit sepakbola. Dia lantas mengeluarkan peluit dan disebut priiiiit priiiit priiiit (17/2/91) … Tetapi sebagai bidadari, Wilutama sering melanggar kode etik kebidadarian. Dia sering memakai celana jeans yang robek-robek (12/5/91) … Gatutkaca sangat sakti, ……bisa terbang sebab punya BH Antakusuma (17.2).

Pada nomina IV, lokasi CWJP, terdapat lokasi konvensional dan lokasi inkonvensional. Lokasi konvensional, yang memang ada dalam pakem, contohnya “Istana Dwarawati” tempat Krisna, “Banjarjunut” tempat Dursasana, “Hutan Minangsraya”, “Alengka” tempat Rahwana, “Pertapaan Sukarini” tempat Seta, “Taman Gandamana” kuburan leluhur Mandura, “Tunggarana” tampat Sitiya, “Mercu Cundamanik” kediaman Batara Guru, “Kawah Candra dimuka”, dan “Suralaya” tempat dewa. Lokasi inkonvensional, memang tidak ada dalam pakem, dalam CWJP meliputi: (a) kawasan, misalnya Timur Tengah; (b) negara, misalnya Iraq, Arab Saudi; (c) pulau, misalnya Sulawesi; (d) pantai, misalnya Pantai Sendang Biru Malang, (e) kota, misalnya Tulungagung (dalam negeri), Riyadh (luar negeri); dan (e) tempat kegiatan tertentu, misalnya terminal Purubaya, kandang kerbau, hotel berbintang, Bumi Retawu Permai. Perhatikan contoh penggalan CWJP (6) dan (7) berikut!

Contoh (6)
“Lho, yang satu ini siapa?” tanya Puntadewa.
Setelah diusut, ternyata yang satu ini mengaku bernama Ngateman, anggota wayang orang dari Tulungagung. Makanya punya pakaian wayang (7.4).

Contoh (7)
Atas inisiatif Puntadewa yang raja Amarta, Sadewa diberi tempat pemukiman baru di Bumi Ratawu Permai. Sadewa senang mendapat rumah baru (10.3).

Nomina V, onomatope, yang ada dalam CWJP ternyata hanya onomatope inkonvensional. Secara sederhana, onomatope ini dibedakan ke dalam (a) bunyi mirip, misalnya priiiit (17/2/91) dan (b) bunyi imajiner, misalnya blekutuk-blekutuk (3/2/91), seperti contoh (8) berikut.

Contoh (8)
Membaca surat ini wajah Krisna marah, dia marah, marah sekali. Tapi sebagai raja, dia bisa menahan diri, seolah-olah tidak ada apa-apa. Padahal, dadanya kalau didengar ada bunyi blekutuk-blekutuk (3.2).

Nomina VI, tempo (kala), dalam CWJP mencakup kala konvensional dan kala inkonvensional. Contoh kala konvensional adalah “bulan pertama” (candra kapisan) dan “bulan kedua” (candra kapindho) (25/11/90). Kala inkonvensional meliputi: (a) tahun, misalnya Visit Indonesia Year ’91, Dewa Visit Year; (b) hari, misalnya setiap malam Minggu, hari Minggu; (c) jam, misalnya pukul 04.00. Perhatikan contoh (9) berikut!

Contoh (9)
Harjuna curiga. Biasanya kiai Pulanggeni miliknya agak berat, tetapi ini kok enteng. Lantas Harjuna pelan-pelan melirik ke arah kerisnya yang terselip di pinggang. Ah, ternyata pedang-pedangan plastik milik anaknya. Rupanya keliru mengambil. Sebab Harjuna berangkat pukul 04.00, rumahnya masih gelap (12.3).

Nomina VII, media komunikasi, dalam CWJP mencakup sedikit media komunikasi konvensional dan media komunikasi inkonvensional. Media komunikasi konvensional, jarang sekali, misalnya “bertanya dalam bahasa Jawa, ‘Sinten sakjatosipun bapakipun Sitiya?’”. Media komunikasi inkonvensional meliputi: (a) bahasa lisan, misalnya bahasa Jepang, bahasa Inggris, bahasa Arab dan (b) bahasa tulis, misal koran, Suara Pewayangan, majalah Bobo. Perhatikan contoh (10) dan (11) berikut!

Contoh (10)
Setelah bekerja di pangkalan AS di Arab Saudi, Udawa kini bisa bahasa Inggris. Meskipun yas-yes, yas-yes, tapi jalan juga bahasa Inggrisnya (20.1).

Contoh (11)
Pancadnyana akhirnya benar-benar mendatangi Krisna. Kebetulan Kresna saat itu sedang berada di teras, leyeh-leyeh sambil membaca majalah Bobo (10.3).

Nomina VIII, penyakit, dalam CWJP meliputi baik penyakit konvensional maupun inkonvensional. Contoh penyakit konvensional adalah “lara branta” (sakit cinta), “lara wuyung” (sakit jatuh cinta), dan “lara ngengleng” (edan, stress). Adapun contoh penyakit inkonvensional adalah pilek, batuk, kuman flu, seperti contoh (12) berikut!

Contoh (12)
Bomantara yang terkena senjata itu langsung pilek dan batuk-batuk. Ternyata senjata Cakrabaswara yang dilepaskan Krisna mengandung kuman flu (10.2).

Nomina IX, pengetahuan (ide), dalam CWJP mencakup pengetahuan konvensional dan pengetahuan inkonvensional. Pengetahuan konvensional, misalnya, “aji-aji Pancasona” dan “ngelmu kebatinan”. Pengetahuan inkonvensional mencakup (a) pengetahuan magis, misalnya mantera Sulawesi …, (b) pengetahuan empiris, misalnya kode etik kebidadarian, dan (c) pengetahuan campuran, misalnya mantera ilmu bumi. Perhatikan contoh (13) berikut!

Contoh (13)
Di Pertapaan Sukarini, tempat Gatutkaca sakit, dengan disaksikan kerabat Pandawa, Wisanggeni mulai mengobati Gatutkaca dengan membaca mantera “Sulawesi Sulawesi Sulawesi …” Para dewa lain menyahut, “Kalimantan, Kalimantan, Kalimantan …” (24.3).

Nomina X, abstraksi peristiwa, meliputi peristiwa konvensional dan peristiwa inkonvensional. Peristiwa konvensional, misalnya, “wisuda Gatutkaca sebagai senapati perang”, “pembicaraan masalah Tunggarana”, “perang tanding Gatutkaca-Boma”, dll. Peristiwa inkonvensional, misalnya, penertiban pembuatan STNK, pemilihan kepala desa, penambangan pasir di Mojokerto. Perhatikan contoh berikut (14)!

Contoh (14)
Boma Narakasura sejak dilantik jadi raja memang bertekad untuk menertibkan pemerintahan. Penertiban pembuatan STNK sehari jadi sampai pemilihan kepala desa juga dibenahi (3.3).

Berdasarkan analisis di muka, dapat disimpulkan bahwa sebagian besar nomina yang digunakan dalam wacana humor CWJP meliputi baik nomina konvensional maupun nomina inkonvensional.

Selanjutnya, yang disajikan adalah hasil penelitian tentang struktur wacana humor CWJP. Bagian berikut akan mendeskripsikan lima macam struktur wacana, jadi tidak selalu satu macam standar, yakni pengantar–pancingan–penyentil.

Struktur I wacana humor CWJP adalah pengantar–pancingan–penyentil, seperti telah dihi-potesiskan. Salah satu contohnya wacana (15) berikut!

Contoh (15)
“… Temui dia dan bilang aku yang menyuruh,” kata Batara Guru. Bambang Sitiya yang kelak jadi raja Boma Narakasura di Trajutrisna pun berangkat. Berangkat ke mana? Mungkin ke Sragen. (3.3).

Kalimat-kalimat Temui dia dan bilang aku yang menyuruh,” kata Batara Guru. Bambang Sitiya yang kelak jadi raja Boma Narakasura di Trajutrisna pun berangkat. merupakan bagian pengantar dalam satuan teks itu. Berangkat ke mana? merupakan bagian pancingan yang memancing penasaran. Sementara, bagian penyentil tawanya adalah Mungkin ke Sragen.

Struktur II wacana humor CWJP adalah pancingan–penyentil, tanpa pengantar. Salah satu contohnya wacana (16) berikut!

Contoh (16)
Tidak mungkin. Untuk ke sana harus lewat mana? Wong Garuda sekarang tidak terbang melintasi Timur Tengah,” kata Pancatnyana (3.2)

Bagian pengantar pada wacana (16) tidak ada. Bagian pemancing dijalankan oleh Tidak mungkin. Untuk ke sana harus lewat mana?. Sedangkan, kalimat Wong Garuda sekarang tidak terbang melintasi Timur Tengah,” kata Pancatnyana adalah bagian penyentilnya.

Struktur III wacana humor CWJP adalah pengantar–penyentil, tanpa penyentil. Salah satu contohnya wacana (17) berikut!

Contoh (17)
“Setyaki, kamu tidak usah bingung. Itu urusanku. Soal Saddam, serahkan kepadaku. Kamu akan kuberi senjata yang sudah tidak dipakai tentara Amerika, yakni Gada Rujakpolo,” kata Bush (20.1).

Diawali dengan pengantar, Setyaki, kamu tidak usah bingung. Itu urusanku, wacana humor (17) langsung ditutup dengan penyentil, Soal Saddam, serahkan kepadaku. Kamu akan kuberi senjata yang sudah tidak dipakai tentara Amerika, yakni Gada Rujakpolo,” kata Bush. Di sini bagian pemancing terlewatkan.

Struktur IV wacana humor CWJP adalah penyentil–pemancing, tanpa pengantar. Salah satu contohnya wacana (18) berikut!

Contoh (18)
Kalau kerbau, masih mending bisa dijadikan kawan kumpul kebo, tapi kalau kuda, lantas bagaimana? Akhirnya, Kumbayana memutuskan untuk kumpul kuda saja, nggak apa-apa (12.5).

Struktur wacana (18) adalah penyentil yang diikuti pemancing. Penyentilnya Kalau kerbau, masih mending bisa dijadikan kawan kumpul kebo, tapi kalau kuda, lantas bagaimana?, sedang pemancing humornya adalah Akhirnya, Kumbayana memutuskan untuk kumpul kuda saja, nggak apa-apa.

Struktur V wacana humor CWJP adalah langsung saja, penyentil, tanpa pemancing, tanpa pengantar. Biasanya ini untuk paragraf-paragraf humor yang pendek. Salah satu contohnya wacana (19) dan (20) berikut!

Contoh (19)
“Barangkali Samba terlibat penyelundupan bawang putih,” kata Boma (28.4)

Contoh (20)
Dan komandan pasukan Prancis itu menjawab, “Kulo menika Hansip Sragen.” Mangkane …, lha wong Sragen. Dan, Pertiwi pun sadar bahwa dia sebenarnya tidak menelepon ke Arab Saudi, tapi ke Mantingan.

Seluruh bagian dari setiap teks ini adalah memenuhi persyaratan sebagai penyentil tawa, tanpa dikenalkan dulu lewat pengantar, tanpa “dipancing-pancing” lewat bagian pemancing.

Berdasarkan analisis kedua ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat lima macam struktur wacana humor CWJP, yaitu (1) pengantar–pancingan—penyentil, (2) pancingan—penyentil, (3) pengantar—penyentil, (4) penyentil—pemancing, dan (5) penyentil saja.

Pembahasan

Dari kesepuluh subnomina, hanya ada satu buah subnomina yang kandungan jenis nominanya bukan penggabungan nomina pakem (konvensional) dan kontemporer (inkonvensional) sekaligus, yaitu nomina V subnomina onomatope. Sembilan subnomina lainnya—persona, fauna, barang, lokasi, tempo media komunikasi, penyakit, pengetahuan, abstraksi peristiwa—selalu menghadirkan serentak nomina konvensional dan inkonvensional.

Dalam cerita wayang pakem, mestinya hal inkonvensional tidak hadir bersama-sama dengan yang konvensional, bahkan semuanya konvensional. Akan tetapi, justru hal ini disengaja (Levine, 1972; Blistein, 1977) karena maksud wacana ini ditulis memang untuk menghumorkan cerita wayang. Kehadiran serentak nomina pakem dan kontemporer ini tidak hanya dalam tataran antarklausa, antarkalimat, atau pun antarparagraf, tetapi bahkan secara mencolok juga muncul dalam tataran antarkata secara langsung, atau malahan antarunsur kata pada sebuah nama. Misalnya saja, penyebutan nama-nama tokoh wayang “Raden Bramakanda, Bremana, Bremani, Dewi Bremanawati, Sarimah, Sumini, Do’im, dan Ngateman” (JP, 24/2/90). Dari “Bramakanda” sampai dengan “Bremanawati” benar-benar terasa nuansa pakemnya. Akan tetapi, sekonyong-konyong munculnya “Sarimah, Sumini, Do’im, dan Ngateman” langsung setelah “Bremanawati”, terasa benar suasana bisosiatif mewarnai teks ini.

Yang paling langsung adalah yang antar unsur dalam satu nama, misalnya “Prabu Yitzhak Bomantara, wayang keturunan Izrael” (3.3). Nama “Prabu Yitzhak Bomantara” adalah fakta perten-tangan dua realitas dunia yang satu dengan yang lain sama sekali lain; Nama ini mengasosiasikan “Prabu Bomantara” (tokoh wayang dari Kikis Tunggarana) yang fiktif dan “Yitzhak Shamir” (tokoh faktual dari Izrael) yang faktual. Demikian juga “Wisnu itu pegawai PLN” (3.2), “helm Basunanda” (17.2), “BH Antakusuma” (17.2), “Bumi Ratawu Permai” (10.3).

Komunitas Jawa, Bali, dan Sunda, konteks sosial wayang berada, tahu bahwa “Wisnu” itu tokoh dewa di Kahyangan, dalam CWJP ternyata seorang pegawai PLN, seperti manusia faktual saja. “Basunanda” itu adalah mahkota, bukan helm. “Antakusuma” adalah kutang eksklusif milik Gatutkaca sehingga dapat terbang, dalam CWJP disebutnya “BH” yang pasti dimiliki oleh setiap manusia perempuan dewasa di masyarakat beradab. Benar, kutang sama dengan BH, tetapi jelas yang pertama konvensional (terminologi pakem spesial wayang), sedang yang kedua inkonvensional (terminologi kontemporer spesial manusia faktual). Jika Christopher P. Wilson dalam Jokes: Form, Content, Use and Function (1979: 11) menegaskan bahwa humor secara bisosiatif terjadi karena hadirnya dua unsur yang dalam dunia nyata tidak pantas atau mustahil hadir bersama, tetapi dalam CWJP term-term spesial pakem dapat muncul serentak bersama term-term kehidupan manusia biasa. Inilah hakikat bisosiasi itu.

Orang dapat menyebut bahasa dan cerita yang dipakai dalam CWJP itu tidak standar, tidak memakai satu aturan baku yang telah ditetapkan. Dalam hal demikian, pemakaian bahasa dan cerita standar sulit memancing humor sebab humor justru memanfaatkan ketumpangtindihan standar dengan nonstandar. Analog dengan ini, munculnya nomina-nomina pakem, yang sejajar dengan standar konvensional, serentak dengan nomina-nomina kontemporer keseharian, yang sejajar dengan nonstandar inkonvensional, membuktikan bahwa dua hal yang bertentangan dan berbeda dunia ini bila dipakai dalam konteks yang sama akan menimbulkan situasi humor, seperti ditegaskan Jean Sisk dan Jean Sounders dalam Composing Humor Twain, Thurber, and You (1972: 96).

Dalam hal stuktur wacana, teks CWJP tidak hanya memakai pola struktur wacana tunggal (pengantar, pemancing, dan penyentil). Jika Soedjatmiko (1988) meyakini bahwa humor senantiasa terdiri atas kejutan (surprise) dan “gong”-nya (punc-line), seperti juga Blumenfeld dan Alpern (1986), struktur wacana dalam CWJP lebih dari itu: bukan hanya satu, melainkan lima pola struktur, yaitu pengantar—pancingan—penyentil, pancing-an—penyentil, pengantar—penyentil, penyentil—pemancing, dan penyentil saja. Dari pola ini juga tampak bahwa struktur tidak selalu urut pengantar–pancingan—penyentil, masih ada empat pola lainnya.

Jelas sekali, memahami humor CWJP mempersyaratkan keharusan memahami konvensi bahasa Jawa dan Melayu, konvensi wayang, dan kon-vensi sastra (Teeuw, 1984; Amir, 1993). Cerita wayang Ramayana dan Mahabarata merupakan tradisi karya sastra Jawa dan Melayu. Oleh karena itu, memahami kedua bahasa sekaligus budayanya (sebab dalam bahasa tersimpan budaya) sebagai konteks ekstralingualnya, merupakan kemutlakan bagi penikmat wacana humor CWJP. Dalam The Language of Jokes, D. Chiaro (1992: 78) menegaskan bahwa sebuah humor berkemungkinan akan kehilangan kelucuannya jika dipahami oleh orang yang memiliki latar belakang kebudayaan (termasuk bahasa) yang berbeda.

Kesimpulan

Sebagian besar nomina yang digunakan dalam wacana humor CWJP meliputi baik nomina konvensional maupun inkonvensional. Subnomina persona, fauna, barang, lokasi, tempo, media, penyakit, ide, dan abstraksi aktivitas selalu berkondisi bisosiatif, dengan memakai secara bersama-sama unsur konvensional dan inkonvensional. Hanya onomatopelah yang tidak memakai keduanya, tetapi hanya memakai unsur inkonvensional.

Struktur wacana CWJP tidak secara teratur terbangun dari pengantar, pancingan, penyentil. Masih ada empat pola struktur wacana yang lain, yaitu pancingan—penyentil, pengantar—penyentil, penyentil—pemancing, penyentil saja.

Jika penelitian ini hendak ditindaklanjuti, sebaiknya dilebarkan dalam hal kerangka teori sebagai sudut pandang (perspektif). Masih banyak perspektif yang dapat digunakan. Misalnya saja perspektif pembebasan (Wilson, 1979; Sobary, 2000), persepsi-kognitif, perilaku sosial, psiko-analisis, juga teori ambiguitas semantik, seperti pernah dimanfaatkan oleh Soedjatmiko (1993). Bahkan, dapat juga fokus data tidak lagi hanya pada nomina, tetapi pada kelas kata yang lain, atau bahkan tataran wacana yang lebih luas.

Dimensi nilai cerita wayang pakem (konvensional) sudah banyak diteliti orang, misalnya Anderson (1990), Amir (1994), serta Sumantri dan Walujo (1999). Dalam Hikmah Abadi: Nilai-nilai Tradisional dalam Wayang, Sumantri dan Walujo menegaskan bahwa wayang menyimpan potensi nilai dan norma etika, sosial, agama, budaya, sementara di tengah-tengah masyarakat semua itu tinggal menjadi pajangan, setidaknya berhenti hanya sebagai wacana retoris. Analog dengan ini, CWJP pun masih membuka diri untuk digali nilai dan norma etika, sosial, agama, budayanya. Terlalu sederhana jika orang menganggap bahwa kandungan nilai CWJP sama saja dengan cerita wayang pakem. Sebab, bukan-kah CWJP terbangun dari unsur konvensional dan inkonvensional, seperti temuan penelitian ini.

Daftar Pustaka

Amir, H. 1994. Nilai-nilai Etis dalam Wayang. Jakarta: Sinar Harapan.

Ancok, D. 1996. “Humor juga Alat Kontrol Sosial”. Prisma XXV/1, Januari: 78–80.

Apte, M.L. 1985. Humor and Laughter. Ithaca: Cornell University Press.

Blistein, E.M. 1977. “Humor”. Hal. 562–564, B.S. Cayne et. al. (ed.), The Enciclopedia Americana Vol. 14. NY: Americana Co.

Chiaro, D. 1992. The Language of Jokes. London: Routledge.

Conklin, H.C. 1964. “Linguistic Play in Its Cultural Context”. Hal. 295–300, D. Hymes (ed.), Language in Cultural and Society. NY: Harper and Raw.

Faisal, S. 1990. Penelitian Kualitatif. Malang: YA3.

Guritno, P. 1995. “Wayang Purwo sebagai Medium Komunikasi”, hal 127–133 dlm. E. Depari dan C. MacAndrews (ed.), Peranan Komunikasi Massa dalam Pembangunan. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Jupriono, D. 1991. ”Bahasa Indonesia dalam Humor Verbal Tulis: Analisis Wacana Humor Wayang Opo Maneh Jawa Pos” (skripsi). IKIP Malang.

Jupriono, D. 1992. “Mekanisme Struktural-Konteks-tual Humor Verbal”. Makna V/03: 19-24.

Hayakawa, S.I. 1972. Language in Thought and Action. NY: Harcourt Brace Jovanovich Inc.

Kleden, I. 1998. “Fakta dan Fiksi tentang Fakta dan Fiksi: Imajinasi dalam Sastra dan Ilmu Sosial”. Kalam 11: 5–35.

Levine, J. 1972. “Humor”. Hal. 1-8, D.L. Sills (ed.), International Enciclopedia of The Social Science. Vol. VII. NY: The Macmillan Co.

Kirk, J. dan M.L. Miller. 1986. Reliability and Validity in Qualitative Research. Beverley Hills: Sage Publications.

Muhadjir, N. 1992. Metodologi Penelitian Kualitatif. Yogyakarta: Rake Sarasin.

Raskin, V. 1985. Semantic Mechanism of Humor. Dordrecht: Reidel Publishing Co.

Setiawan, A. 1990. “Humor Itu Serius Lho!”. Humor 1, Oktober: 44–45.

Sherzer, J. 1985. “Puns and Jokes”, hal. 213–221 dlm. T.A. van Dijk (ed.), Handbook of Discourse Analysis Vol. 3: Discourse and Dialogue. London: Academic Press.

Silverman, D. 1993. Interpreting Qualitative Data. London: Sage Publication.

Sisk, J. dan J. Sounders. 1972. Composing Humor: Twain, Thurber and You. NY: Harcourt Brace.

Sobary, M. 2000. “Kejenakaan pun Menjadi Kearifan”, hal. vii-xv dlm Adnan ed.), Presiden Dur yang Gus Itu: Anekdot-anekdot K.H. Abdurrahman Wahid. Surabaya: Risalah Gusti.

Soedjatmiko, W. 1988. “Linguistic and Cultural Analysis of American Written Verbal Humor and Its Pedagogical Implications”. Disertasi PPS IKIP Malang.

Sudaryanto. 1993. Metode dan Aneka Teknik Analisis Bahasa, Yogyakarta: Duta Wacana Univ. Press.

Sumantri, B. dan K. Walujo. 1999. Hikmah Abadi: Nilai-nilai Tradisional dalam Wayang. Yogyakarta: PustakaPelajar.

Suprana, J. 1996. “Humor di Tengah Masyarakat”. Prisma XXV/1, Januari: 93–101.

Wijana, I D.P. 1996. “Wacana Kartun dalam Bahasa Indonesia”. Prisma XXV/1, Januari: 3–16.

Wilson, C.P. 1979. Jokes: Form, Content, Use and Function. London: Academic Press.

Catatan Admin: Penelitian ini dipublikasikan secara online pertama kali di blog pribadi D. Jupriono

Incoming search terms:

  • apakah tujuan dari cerita lucu (anekdot)?
  • cerpen mohammad sobary
  • NULL

Use Facebook to Comment on this Post

Comments are closed.

Copy Protected by Chetans WP-Copyprotect.